Rabu, 15 Mei 2013

KONSEP DASAR BELAJAR


KONSEP DASAR BELAJAR

A.    ARTI PENTING BELAJAR
1.      Arti Penting Belajar bagi Perkembangan Manusia
Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan yang terkandung dalam belajar. Karena kemampuan belajarlah, manusia dapat berkembang lebih jauh daripada makhluk-makhluk lainnya. Karena kemampuan berkembang melalui belajar itu pula manusia secara bebas dapat mengeksplorasi, memilih, dan menetapkan keputusan-keputusan yang penting unttuk kehidupannya.
Perkembangan berpikir kompleks dan baik (complex and good thinking) dapat dipastikan tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi tergantung pada proses belajar. Proses belajar berpikir secara baik pada umumnya berlangsung sebagai hasil proses mengajar dengan pendekatan-pendekatan tertentu, seperti pendekatan direct explanation (penjelasan langsung). Dengan pendekatan ini, para siswa diajari secara langsung dengan menggunakan strategi merancang-melaksanakan-merevisi. Selain pendekatan direct explanation juga digunakan pendekatan guided participation (keikutsertaan terpimpin), dengan pendekatan ini siswa diajari menyelesaikan tugas dengan m,enggunakan srategi step-by-step (selangkah demi selangkah).
Kualitas hasil proses perkembangan manusia banyak terpulang pada apa dan bagaimana ia belajar. Tinggi rendahnya kualitas perkembangan manusia akan menentukan masa depan dan peradaban manusia itu sendiri.

2.      Arti Penting Belajar bagi Kehidupan Manusia
Kegiatan belajar memiliki arti penting, karena belajar berfungsi sebagai alat mempertahankan kehidupan manusia. Dalam prespektif agama (dalam hal ini Islam), belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang yang beriman agar memperoleh ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan derajat kehidupan mereka. Ilmu juga harus bermanfaat bagi kehidupan orang banyak di samping bagi kehidupan diri pemilik ilmu tersebut.
Siswa yang menempuh proses belajar, idealnya ditandai oleh munculnya pengalaman-pengalaman psikologis baru yang positif. Pengalaman-pengalaman yang bersifat kejiwaan tersebut diharapkan dapat mengembangkan aneka ragam sifat, sikap, dan kecakapan yang konstruktif, bukan kecakapan yang destruktif (merusak).
Belajar memiliki arti penting bagi siswa dalam: 1) melaksanakan kewajiban keagamaan; 2) meningkatkan derajat kehidupan; 3) mempertahankan dan mengembangkan kehidupan.

B.     DEFINISI DAN CONTOH BELAJAR
1.      Definisi Belajar
a.       Menurut Skinner
Skinner menyatakan bahwa belajar adalah a process of progressive behavior adaption (belajar merupakan suatu proses adaptasi yang berlangsung sevara progresif). Skinner percaya bahwa proses adaptasi akan mendatangkan hasil yang optimal apabila diberi penguat (reinforcer).
b.      Menurut Chaplin
Chaplin (1972) dalam Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berbunyi: “acquisition of any relatively permanent change in behavior as a result of practice and experience” (belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman). Rumusan keduanya adalah “process of acquiring responses as a result of special practice (belajar ialah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus).




c.       Menurut Hintzman
Hintzman berpandangan bahwa perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organism. Hal itu sesuai dengan apa yang terdapat dalam bukunya “Learning is a change in organism due to experience which can affect the organism’s behavior” (Belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme, manusia atau hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut).
d.      Menurut Wittig
Dalam bukunya Wittig mendefinisikan belajar sebagai: any relatively permanent change in an organism’s behavioral repertoire that occurs as a result of experience (belajar ialah perubahan yang relative menetap yang terjadi dalam segala macam atau keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman).
e.       Menurut Reber
Reber dalam kamusnya, membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar adalah “the process of acquiring knowledge” (proses memperoleh pengetahuan). Kedua, belajar adalah “a relatively permanent change in respons potentiality which occurs as a result of reinforced practice” (suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relative langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat).
f.       Menurut Biggs
Biggs mendefinisikan belajar dalam tiga rumusan, yaitu: 1) rumusan kuantitatif (ditinjau dari sudut jumlah, belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa; 2) rumusan institusional (tinjauan kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses validasi (pengabsahan) terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah dipelajari; 3) rumusan kualitatif (tinjauan mutu), belajar difokuskan pada tercapainya daya piker dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti dihadapi siswa.
Dari berbagai definisi yang dikemukakan di atas, secara umum belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi denag lingkungan yang melibatka proses kognitif.



2.      Contoh Belajar
“Seorang anak balita memperoleh mobil-mobilan dari ayahnya. Lalu ia mencoba mainan ini dengan cara memutar kuncinya dan meletakkannya pada suatu permukaan atau dataran”. Perilaku “memutar dan meletakkan” merupakan respon atas rangsangan yang timbul pada mainan.
Pada tahap permulaan, resppon anak terhadap stimulus yang ada pada mainan biasanya tidak tepat atau tidak teratur. Namun, berkat latihan dan pengalaman berulang-ulang, lambat laun ia menguasai dan akhirnya dpat memainkan mobil-mobilan dengan sempurna. Belajar dapat dipahami sebagai proses yang dengan proses itu sebuah tingkah laku ditimbulakan atau diperbaiki melalui serentetan reaksi atas situasi atau rangsanngan yang ada.
Peristiwa belajar yang dialami manusia bukan semata-mata masalah respons terhadap stimulus yang ada, melainkan karena adanya self-regulation dan self-direction, yakni pengaturan dan pengarahan diri yang dikontrol oleh otak yang hampir pasti berperan lebih penting.
Belajar pada hakekatnya merupakan proses kognitif yang mendapat dukungan dari fungsi ranah psikomotor (mendengar, melihat, mengucapkan). Apa pun jenis dan manifestasi belajar yang dilakukan siswa, hampir dapat dipastikan selalu melibatkan fungsi ranah akalnya yang intensitas penggunaannay tentu berbeda antara satu peristiwa belajar dengan peristiwa belajar lainnya.

C.     BELAJAR, MEMORI, DAN PENGETAHUAN
1.      Prespektif Psikologi
Dalam prespektif psikologi, antara belajar, memori, dan pengetahuan terdapat hubungan yang tidak terpisahkan.
a.       Pusat Memori dan Pengetahuan
Menurut Burno, memori ialah proses mental yang meliputi pengkodean, penyimpanan, dan pemanggilan kembali informasi dan pengetahuan yang semuanya terpusat pada otak.
Srtuktur sistem akal manusia terdiri dari tiga subsistem, yakni: sensory register (subsistem penyimpanan pada syaraf indra penerima informasi); short term memory (subsistem akal pendek); dan long term memory. Memori sendiri, dengan segala ragam atau jenisnya berpusat di dalam otak.
      Dalam diri manusia terdapat sistem syaraf pusat (central nervous system), yang terdiri atas: 1) otak dengan segala bagiannya; dan 2) syaraf yang berperan sebagai tali penghubung tulang belakang (spinal cord). Fungsi utama tali penghubung ini adalah untuk menyalurkan tidak hanya pesan-pesan syaraf dari otak ke otot-otot seluruh tubuh, tetapi juga pesan-pesan hasil pengindraan jasmani ke otak.
      Secara global, otak terdiri atas dua bagian besar, yakni: 1) bagian atas yang disebut cortex atau neocortex. Otak atas yang terdapat dalam spesies makhluk hidup (manusia) bersifat dinamis dan potensinya dapat dikembangkan seluas-luasnya; 2) bagian bawah yang disebut medulla dan sekitarnya. Terdapat dalam spesies tinggi dan rendah (kera, kucing), sifatnya statis. Kendatipun statis, namun otak bawah memiliki fungsi-fungsi dasar sebagai berikut:
1)      Medulla, berfungsi mengendalikan pernafasan, penelanan, pencernaan, dan detak jantung,
2)      Cerebellum, berfungsi mengoordinasikan berbagai gerakan organ jasmani dan refleks-refleks,
3)      Thalamus, fungsi utama sebagai stasiun penyambung informasi motor (gerakan jasmani) dan informasi sensori (hasil pengindraan mata, telinga, dll) dari sub-sub bagian otak bawah ke otak atas (cortex),
4)      Hypothalamus, berfungsi mengatur ekspresi-ekspresi yang berasal dari dorongan-dorongan dasar (dorongan lapar dan dorongan seksual).
Cortex merupakan bagian otak yang berkembang belakangan (setelah pemiliknya berhubungan dengan lingkungan atau pendidikan. Cortex yang terdapat dalam otak manusia berukuran lebih besar daripada spesies lain, ia juga bertanggung jawab kinerja dua per tiga neuron atau sel syaraf yang seluruhnyabejumlah sekitar 100 milyar. Cerebral cortex (selaput luar otak) merupakan lapisan yang disebut neural sheet yang tipis. Jumlah lipatan dan lekukan cortex inilah yang membuat perbedaan mencolok antara manusia dengan spesies-spesies makhluk lainnya.
Otak adalah sumber dan menara pengontrol kegiatan segenap ranah psikologis manusia. Otak tidak hanya berpikir dengan kesadaran, tetapi juga berpikir dengan ketidaksadaran. Otak merupakan sistem memori atau sistem akal manusia tersimpan, dengan sistem akal yang dimilikinya, manusia dapat belajar dengan cara menyerap, mengolah, menyimpan, dan memproduksi pengetahuan dan keterampilan untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupannya.
b.      Ragam Memori dan Pengetahuan
Ditinjau dari jenis informasi dan pengetahuan yang disimpan, memori manusia terdiri atas dua macam, yakni:
1)      Sematic memory (memori sematik)
Memori khusus yang menyimpan arti atau pengertian-pengertian. Reber menyatakan bahwa dalam memori sematik informasi yang diterima ditransformasikan dan diberi kode arti, lalu disimpan atas dasar arti itu. Memori sematik berfungsi menyimpan konsep-konsep yang signifikan dan bertalian antara satu dengan lainnya.
2)      Episodc memory (memori episodik)
Memori khusus yang menyimpan informasi tentang peristiwa-peristiwa. Menurut Daehler dan Bukato, memori episodic adalah memori yang menerima dan menyimpan segala peristiwa yang terjadi atau dialami individu pada waktu dan tempat tertentu, yang berfungsi sebagai otobiografi.
Ditinjau dari sifat dan cara penerapan, ilmu pengetahuan terdiri dua macam, yakni:
1)      Declarative knowledge (pengetahian proporsional)
Pengetahuan mengenai informasi faktual pada umumnya, bersifat ststis-normatif dan dapat dijelaskan secara lisan,verbal. Isi pengetahuan ini dapat dituralkan kepada orang lain. Pengetahuan deklaratif adalah knowing that (mengetahui bahwa)
2)      Procedural knowledge (pengetahuan procedural)
Penegetahuan yang mendasari kecakapan atau perbuatan jasmani yang cenderung bersifat dinamais. Namun, pengetahuan ini sulit diuraikan secara lisan. Pengetahuan procedural lazim disebut knowing how (menegteahui cara)
c.       Memori dan IQ (Intelligence Quotient)
Secara harfiah, Intellegence Quotient berarti hasil bagi intelegensi (skor yang dihasilkan dari pembagian sebuah skor dengan skor lainnya yang berhubungan dengan kemampuan mental seseorang). Intelegensi dapat disononimkan dengan kecerdasan.
Kecerdasan manusia merupakan hasil interaksi antara himpunan pengetahuan dengan kemampuan khusus dalam mengolah sejumlah informasi tertentu. Kecerdasan tidak hanya ditentukan oleh potensi dasar pembawaanya saja tetapi juga oleh seberapa banyak pengetahuan yang ia miliki sebagai hasil pengalaman belajarnya.
o   Rumus menentukan IQ (Rumus Stanford-Binet dan Wechsler):
IQ= 100 x Mental age (usia mental) : Chronological age (usia sesungguhnya)
           

o   Klasifikasi skor IQ dan predikatnya:
Skor IQ
Interpretasi atau predikat
130 ke atas
Very Superior (sangat unggul)
120-129
Superior (unggul/istimewa)
110-119
High average (rata-rata tinggi)
90-109
Average (rata-rata)
80-89
Low average (rata-rata rendah)
70-79
Borderline (perbatasan)
69 ke bawah
-          Mentally retarded (keterbelakangan mental untuk dewasa)
-          Mentally deficient (kekurangan mental untuk anak-anak)

2.      Prespektif Agama
     Dalam prespektif agama (Islam), belajar untuk memperoleh pengetahuan yang menggunakan memori dan sensori hukumnya wajib.
a.       Arti Penting Memori dan Pengetahuan
     Menurut Dr. Yusuf Al-Qardhawi, islam adalah akidah yang berdasarkan ilmu pengetahuan, bukan sekedar penyerahan diri secara membabi buta.
     Ada hadist Rasulallah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Ashim dan Thabrani yang berisi perintah belajar, karena hanya melalui belajarlah ilmu pengetahuan dapat diraih. Perintah belajar tersebut, harus dilaksanakan melalui proses kognitif. Dalam hal ini, sistem memori yang terdiri atas memori sensori, memori jangka pendek, dan memori jangka panjang berperran sangat aktif dan menentukan berhasil atau tidaknya seseorang dalam meraih pengetahuan dan keterampilannya.
b.      Alat Fisio-Psikis untuk Belajar
Tuhan memberi potensi yang bersifat jasmani dan rohani untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kemaslahatan umat manusia itu sendiri.
     Potensi-potensi tersebut terdapat dalam organ-organ fisio-psikis manusia yang berfungsi sebagai alat penting untuk melakukan kegiatan belajar. Alat-alat yang bersifat fisio-psikis dalam hubungannya dengan kegiatan belajar merupakan subsistem-subsistem yang saling berhubungan secra fungsional. Adapun ragam alat fisio-psikis itu adalah:
1.      Indra penglihat (mata), alat fisik yang berguna untuk menerima informasi visual,
2.      Indra pendengar (telinga), alat fisik yang berguna untuk mnerima informasi verbal atau stimulus suara dan bunyi-bunyian,
3.      Akal, potensi kejiwaan manusia berupa sistem psikis yang kompleks untuk menyerap, mengolah, menyimpan, dan memproduksi, kembali item-item informasi dan pengetahuan (ranah kognitif).

D.    TEORI-TEORI POKOK BELAJAR
      Secara pragmatis, teori belajar dapat dipahami sebagai prinsip umum atau kumpulan prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta dan penemnuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar.
      Teori-teori pokok mengenai belajar terdiri atas:
1.      Connectionism (Koneksionisme)
      Teori koneksionisme adalah teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh Edward L. Thondrike (1874-1949). Thondrike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan stimulus dan respons, sehingga teori ini juga dikenal dengan sebutan “Trial and Eror Learning”.
      Adanya respon kemudian menjadi dasar timbulnya hokum belajar law of effect, yang artinya jika sebuah respon menghasilkan efek yang memuaskan, hubungan antara stimulus dan respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan (menganggu) efek yang dicapai respon, semakin lemah pula hubungan stimulus dengan respon tersebut.
2.      Classical Conditioning (Pembiasaan Klasik)
      Teori ini berkembang berdasarka hasil eksperimen yang dilakukan Ivan Pavlov (1849-1936). Pada dasarnya teori ini adalah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut.
      Dalam teori ini, belajar adalah perubahan yang ditandai dengan adanya hubungan antara stimulus dan respons. Kesimpulan dari teori ini adalah apabila stimulus yang diadakan selalu disertai dengan stimulus penguat, stimulus tadi cepat atau lambat akan menimbulkan respons atau perubahan yang kita kehendaki.
      Classical Conditioning tunduk terhadap dua macam hukum yang berbeda, yakni:



a.       Law of Respondent Conditioning
Secara harfiah adalah hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks ketiga yang terbentuk dari respon atas penguatan refleks dan stimulus yang akan meningkat.
b.      Law of Respondent Extinction
Secara harfiah adalah hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

3.      Operant Conditioning (Pembiasaan Perilaku Respons)
      Teori ini diciptakan oleh Burrhus Frederic Skinner, menurutnya tingkah laku itu terbentuk dari konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh tingkah laku itu sendiri.
      Operant adalah sejumlah perilaku atau respons yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan yang dekat. Respons dalam Operant Conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforce ialah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya.
      Proses belajar dalam Operant Conditioning, tunduk terhadap dua hokum operant yanag berbeda, yakni:
a.       Law of Operant Conditioning
Menurut hukum ini, jika timbulnya tingkah laku operant diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tresebut akan meningkat.
b.      Law of Operant Extinction
Hukum ini merupakan kebalikan dari hukum di atasnya, jika timbulnua tingkah laku operant yang telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut akan menurun atau musnah.
4.        Contiguous Conditioning (Pembiasaan Asosiasi Dekat)
      Sebuah teori belajar yang mengasumsikan terjadinya peristiwa belajar berdasarkan kedekatan hubungan antara stimulus dengan respons yang relevan. Teori ini paling sederhana dan efisien, karena di dalamnya hanya terdapat satu prinsip, yaitu kontiguitas yang berarti kedekatan asosiasi antar stimulus-respons.

      Menuruit teori ini, apa yang sesungguhnya dipelajari orang, adalah reaksi atau respons terakhir yang muncul atas sebuah rangsangan atau stimulus. Artinya, setiap peristiwa belajar hanya mungkin terjadi sekali saja untuk selamanaya atau tidak sama sekali terjadi. Teori ini juga berpandangan bahwa peningkatan berangsur-angsur kinerja hasil belajar yang lazim dicapai seorang siswa bukanlah hasil dari berbagai respons kompleks terhadap stimulus-stimulus, melainkan karena dekatnya asosiasi antara stimulus dengan respons yang diperlukan.        
      Teori pertama sampai keempat bersifat behavioristik (hanya mementingkan perilaku jasmaniah semata). Karakteristik belajar yang terdapat dalam teori-teori behavioristik sesungguhnya mengandung banyak kelemahan. Kelemahan tersebut antara lain:
a.       Proses belajar dipandang dapat diamati secara langsung, padahal belajar adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar kecuali sebagian gejalanya.
b.      Proses belajar dipandang bersifat otomatis-mekanis, sehingga terkesan seperti gerakan mesin dan robot, padahal tiap siswa memiliki self-regulation (kemampuan mengatur diri sendiri) dan self-control (pengendalian diri) yang bersifat kognitif, dan karenanya ia bisa menolak, merespons, jika ia tidak menghendaki.
c.       Proses belajar manusia yang dianalogikan dengan perilaku hewan sangat sulit diterima, karena perbedaan antara karakter fisik dan psikis manusia dengan hewan.
      Menurut aliran behaviorisme, tiap siswa lahir tanpa pembawaan apa-apa dari orang tuanya, dan belajar merupakan kegiatan refleks-refleks jasmani terhadap stimulus yang ada serta tidak ada hubungannya dengan bakat dan kecerdasan atau pembawaan.
5.      Cognitive Theory (Teori Kognitif)
      Pendekatan psikologi kognitif lebih menekankan arti penting proses internal, mental manusia. Tingkah laku manusia yang tampak tak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, yakni: motivasi, kesengajaan, keyakinan, dan sebagainya.
      Dalam teori ini, belajar pada dasarnya adalah peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral (bersifat jasmani). Piaget menyimpulkan “children have a built in desire to learn”, yang bermakna sejak kelahirannya, tiap anak manusia memiliki kebutuhan yang melekat dalam dirinya sendiri untuk belajar. Belajar bukan sekedar peristiwa ikatan stimulus antara stimulus dan respons melainkan lebih banyak melibatkan proses kognitif.
      Menurut aliaran kognitif, tiaps siswa lahir dengan bakat dan kemampuan mentalnya sendiri. Faktor bawaan ini memungkinkan siswa untuk menentukan respons atau tidak terhadap stimulus, sehingga belajar tidak otomatis seperti robot.

6.      Social Learning Theory (Teori Belajar Sosial)
      Tokoh utama teori ini adalah Albert Bandura, ia memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis dan stimulus, melainkan juga reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.
      Prinsip dasar belajar teori ini termasuk belajar social dan moral. Pendekatan teori belajar social terhadap proses perkembangan social dan moral siswa ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan respons) dan imitation (peniruan).
      Dalam conditioning, prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku sosisal dan moral pada dasarnya dengan prosedurbelajar dalam mengembangkan prilaku-perilaku lainnya, yakni dengan reward (penghargaan) dan punishment (hukuman). Dasar pemikirannya ialah sekali seorang siswa mempelajari perbedaan antara perilaku-perilaku yang menghasilkan penghargaan dengan perilaku yang mengakibatkan hukuman, agar ia dapat berpikir dan memutuskan perilaku social mana yang perlu ia perbuat.
      Imitation atau peniruan, dlam proses ini orang tua dan guru seyogyanya memainkan peran penting sebagai seorang model atau tokoh yang dijadikan contoh berprilaku social dan moral bagi siswa.

E.     PROSES DAN TAHAPAN BELAJAR
1.      Definisi Proses Belajar
      Dalam psikologi belajar, proses berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hasil-hasil tertentu. Jadi, proses belajar adalah tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi kea rah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya.
2.      Tahap-tahap dalam Proses Belajar
a.       Menurut Jerome S. Bruner
Bruner berpendapat dalam proses belajar siswa menempuh tiga episode/tahap, yaitu:
1)      Tahap Informasi (Penerimaan Materi)
Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari. Dari semua informasi itu ada yang baru ia dapat, ada pula yang berfungsi menambah, memperhalus, dan memperdalam pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki.


2)      Tahap Trasformasi (Pengubahan Materi)
Dalam tahap ini, informasi yang diperoleh dianalisis, diubah, dan ditransformasilkan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual supaya kelak dapat dimanfaatkan bagi hal yang lebih luas.
3)      Tahap Evaluasi (Penilaian Materi)
Dalam tahap ini, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami atau memecahkan masalah yang terjadi.

b.      Menurut Arno F. Wittig
Menurut Wittig, setiap proses belajar selalu berflangsung dalam tiga tahap, yaitu:
1)      Acquisition (tahap perolehan/penerimaan informasi)
Dalam tahap ini, siswa mulai menerima informasi sebagai stimulus dan menlakukan respons terhadapnya, sehingga menimbulkan pemahaman dan perilaku baru. Dalam tahap ini terjadi asimilasi antara pemahaman dengan perilaku baru dalam keseluruhan perilakunya. Karena ini tahap dasar, maka jika tahap ini gagal, tahap yang selanjutnya juga akan mengalami kegagalan.
2)      Storage (Tahap Penyimpanan Informasi)
Dalam tahp ini, siswa secara otomatis akan mengalami proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang diperoleh ketika menjalani proses acquisition. Dalam kegiatan ini melibatkan short term dan long term memory.
3)      Retrieval (Tahap Mendapatkan Informasi Kembali)
Pada tahap ini, siswa akan mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memorinya. Proses retrieval pada dasarnya adalah upaya atau peristiwa mental dalam mengungkapkan dan memproduksi kembali segala yang tersimpan dalam memori berupa informasi, symbol, pemahaman, dan perilaku tertentu sebagai respons atau stimulus yang sedang dihadapi.
c.       Menurut Albert Bandura
Bandura berpendapat bahwa setiap proses belajar (terutama belajar social dengan menggunakan model), terjadi dalam urutan tahapan yang meliputi:
1)      Tahap Perhatian (Attentional Phase)
Pada tahap ini, siswa pada umumnya memusatkan perhatian pada obyek materi atau perilaku model yang lebih menarik terutama karena keunikannya disbanding dengan meteri atau perilaku lain yang sebelumnya telah mereka ketahui;
2)      Tahap Penyimpanan dalam Ingatan (Retention Phase)
Dalam tahap ini, siswa lazimnya akan lebih baik dalam menangkap dan menyimpan segala informasi yang disampaikan atau perilaku yang dicontohkan apabila disertai penyebutan atau penulisan nama, istilah, dan label yang jelas serta contoh perbuatan yang akurat.
3)      Tahap Reproduksi (Reproduction Phase)
Pada tahap ini, segala bayangan citra mental (imagery) atau kode-kode simbolis yang berisi informasi pengetahuan dan perilaku yang telah tersimpan dalam memori siswa itu diproduksi kembali.
4)      Tahap Motivasi (Motivation Phase)
Merupakan tahap terakhir dalam proses terjadinya peristiwa atau perilaku belajar, dimana dalam tahap ini siswa memnerima dorongan yang dapat berfungsi sebagai penguatan (reinforcement) atas segala informasi yang ada dalam memori siswa. Dalam tahap ini, guru dianjurkan untuk member pijian, hadiah, atau nilai tetrtentu kepada siswa yang berkinerja memuaskan. Sementara kepada mereka yang belum menunjukkan kinerja yang memuaskan perlu diyakinkan akan arti penting penguasaan materi atau perilaku yang ditunjukkan guru bagi kehidupan mereka.

0 komentar:

Poskan Komentar